Saturday, November 24, 2018

Historisnya SekolahKu


SekolahKu AlmamaterKu
SMA Negeri 68 Jakarta adalah sekolah menengah atas negeri percontohan yang berkedudukan di Jakarta Pusat. Sejak awal pendirian SMA Negeri 68 Jakarta, pemerintah telah mencanangkan sekolah ini sebagai sekolah percontohan yang dapat menjadi barometer sekolah di DKI Jakarta. SMA Negeri 68 diresmikan oleh Presiden ke-dua Republik Indonesia, Soeharto, 29 Agustus 1981.
Dalam komplek tersebut juga termasuk SMP Negeri 216 Jakarta, SD Negeri Kenari 7-12 Jakarta dan gedung multifungsi Menza. Sampai saat ini masyarakat mengenal kompleks ini sebagai Kompleks Pendidikan Salemba 18.Telah 37 tahun sekolah ini berdiri. Perubahan kurikulum dan paradigma belajar terus dilakukan sejalan dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan masyarakat. Kurikulum 2004 (KBK) telah dilaksanakan secara penuh sejak tahun ajaran 2005/2006 pada semua jenjang kelas. Pada tahun yang sama juga terbentuk layanan kelas internasional dengan mengacu pada Kurikulum Cambridge. Pada tahun ajaran 2006/2007 sekolah ini telah ditunjuk sebagai Rintisan Sekolah nasional Berstandar Internasional. Pelaksanaan RSBI baru akan dilaksanakan mulai tahun ajaran 2008 – 2009 di kelas X. SMA Negeri 68 menjadi sekolah pertama yang menggunakan Kurikulum 2013 dan melakukan program penjurusan semenjak awal masuk kelas 10.

Lokasi SMA 68 merupakan areal historis yang memiliki peranan penting pada era kolonial. Suatu kebanggaan bagi kita karena tempat yang sering kita gunakan untuk beredukasi, bercanda, berprestasi ini merupakan lokasi historis.  Mari kita telusuri sehistoris  apakah  jalan Salemba ini pada era kolonial.

Tentu kita lebih mengenal lokasi Salemba saat ini sebagai suatu kawasan strategis yang berada diantara Jl. Kramat Raya dan Jl. Matraman Raya, wilayah Kecamatan Senin, Jakarta Pusat. Di kawasan tersebut terdapat beberapa nama tempat yang diawali Salemba, seperti Salemba Bluntas, Salemba Tengah, Salemba Utankayu dan Salemba Tanah Padri. Di Salemba ada beberapa gedung penting, diantaranya Perpustakaan Nasional, Universitas Indonesia, RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), RS St Carolus, Rutan Salemba, Lembaga Alkitab Indonesia, dan Universitas Kristen Indonesia.
Bagaimanakah historisnya jalan Salemba pada masa lampau?

Salemba Tempo Dulu- Salemba Saat ini
                                       Sumber: https://id.pinterest.com/pin/475552041899130594/?lp=true

Salemba merupakan salah satu jalan yang dibangun oleh Gubernur Jendaral Daendels ketika memerintah (1808-1811) hingga dikenal dengan nama Jalan Daendels. Kala itu Salemba terletak di perbatasan antara kota Batavia dan Meester Cornelis. Karena pada 1905 ibu kota Batavia dibagi menjadi dua Kotapraja, yakni Batavia dan Meester Cornelis (kini Jatinegara). 
Menurut Zaenuddin HM, dalam buku karyanya berjudul “212 Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe,” setebal 377 halaman, terbitan Ufuk Press pada Oktober 2012, menyatakan Salemba dalam peta abad ke-19 dan awal abad ke-20 bernama Struyswijk atau Salemba Besar. Wilayahnya terbentang dari Kali Ciliwung di sebelah barat sampai kali Sunter di sebelah timur, dari pemakaman orang-orang Tionghoa atau Sentiong di sebelah utara sampai kebun kayu manis milik partikelir Solutide di sebelah selatan.
Mengapa dinamakan Strusyswijk? 
Dinamakan Struyswijk, dapat diartikan kawasan Struys, karena tuan tanah pertamanya adalah Abraham Struys, seorang mantan pejabat pada Kompeni yang kaya raya. Tanah itu kemudian diwariskan kepada anaknya, Anna Struys yang menikah dengan Joan van Hoorn, seorang pejabat tinggi Kompeni Belanda di Batavia. Menurut Resolusi tertanggal 22 Oktober 1699 kawasan struyswijk menjadi milik Joan van Hoorn, yang menjual sebagian dari padanya.Kepada Domine Kiezenga seharga 5000 Ringgit, termasuk 330 ekor sapi dan sejumlah perlengkapan rumah tangga. Bagian yang dibeli Domine tersebut kemudian dikenali dengan sebutan Tanah Padri (De Haan 1910:6,7,13) yang masih tercantum sebagai nama tempat pada peta 1911 yang ditebitkan oleh Topograpisch Inrichting Batavia, Lembar I.IV. 

Salemba semakin terkenal dengan adanya perguruan tinggi kedokter School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) yang merupakan cikal bakal UI sekarang. Di seputaran kampus tersebut terdapat rumah sakit Centraal Burgerlijke Ziekenhuis (CBZ) yang saat ini lebih terkenal dengan Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo.
Rumah sakit CBZ yang kemudian jadi RS Cipto Mangunkusumo
Tidak jauh dari situ terdapat penjara Salemba. Pada masa kolonial, penjara ini kerap digunakanuntuk memenjarakan orang yang dianggap berlawanan dengan pemerintah kolonial.
Seperti yang tertera dalam banyak literatur, salah satu fungsi jalan Daendels adalah untuk menangkal armada Inggris yang kian masif. Begitu juga dengan Salemba. Tapi sayang, Daendels justru harus menyerah di jalan yang dibangun atas namanya sendiri.
Pada Agustus 1811 bala tentara Inggris setelah terlebih dulu menguasai Kota dan Senen, tanpa mengenal ampun melaju ke kawasan ini Salemba, jalan yang dibangun Daendels. Untuk menyambut tentara Raffles, Daendels telah menyiapkan tangsi-tangsi di sekitar Matraman yang sejatinya sudah masuk kawasan Meester Cornelis. Meski demikian, upaya itu ternyata tak cukup jitu menghalau serangan tentara Inggris. Ribuan tentara Inggris dengan mati-matian bertempur melawan pasukan Belanda/Prancis (saat itu Batavia dikuasai Prancis). Tentara gabungan Belanda-Prancis yang menyerah, sebanyak 6.000 orang pasukannya ditawan dan berakhir dengan kemenangan tentara Inggris dengan Raffles sebagai gubernur jenderalnya. Setelah pesta kemenangan dan peperangan dilupakan, opsir-opsir Inggris yang muda mengadakan pesta pora dan menemukan teman pesta dansa di kalangan gadis-gadis Belanda dan Indo.

Nah, begitulah historisnya jalan Salemba ini maka mulai saat ini mari kita jaga kenyamanan dan keasrian sekolah kita sebagai bagian dari tapak tilas sejarah Indonesia.
Cinta Sejarah sebagai bukti Pejuang Sejarah Kekinian.
Salam Historis...




No comments:

Post a Comment